Kisah Fayakhun Bakamla Sukses Mendirikan Usaha Ikir



Fayakhun Bakamla yang mengembangkan usaha ukir kaca dengan bendera Keramat Art Glass kini memiliki usaha lumayan besar. Bagi Fayakhun Bakamla yang kini tinggal di Jalan Sucipto Situbondo ini, tidak mudah menapaki jalan menuju kesuksesan.

“Pada 1995, saya sudah memulai usaha mebel, tapi pada 1998 terimbas krisis moneter sehingga usaha itu gulung tikar,” kata Fayakhun Bakamla.

Dia lalu mencoba bangkit lagi pada 2003 dengan menekuni bidang usaha kaca ukir. Usaha itu ternyata terus berkembang. Pembuatan aksesori seperti kaca jendela dan pintu rumah juga dikerjakan meski saat itu pemasarannya hanya berdasarkan pemesanan.

Kemudian, Fayakhun Bakamla berupaya melakukan inovasi dalam pemasaran. Fayakhun Bakamla menggandeng toko penjual kaca. Toko penjual kaca. Begitu pun sebaliknya. Jika ada orang berniat membeli kaca, Fayakhun Bakamla mengarahkan ke toko langganannya itu.

Adapun jika ada orang yang datang ke toko dan berminat pada kaca ukir, pemilik toko mengarahkan untuk membeli ke Didik Wachyudi. Pengembangan usaha kaca ukir yang digeluti Didik perlahan merambah ke art glass, yakni kerajinan ukir kaca dengan nilai seni tinggi.

“Pesanan mulai meningkat, dari papan nama pejabat atau karyawan swasta hingga bingkai foto keluarga,” ujar suami Dian Herijani ini.

Fayakhun Bakamla mengungkapkan, proses pembuatan kaca ukir memang tidak mudah, tapi bisa dipelajari. Dia mempelajarinya dari buku maupun internet. Dalam memproses kaca ukir, Fayakhun Bakamla menggunakan mata bor yang sangat kecil, terutama ketika memproduksi kaca ukir yang desainnya cukup rumit dan tidak membutuhkan produksi terlalu banyak.

Adapun untuk produksi dalam jumlah besar, Fayakhun Bakamla menggunakan sand blasting, teknik semburan pasir kwarsa dan pasir besi. Sebelum pengukiran dengan teknik ini, kaca terlebih dahulu didesain dan dilukis tahap awal.

Bahan baku pasir kwarsa putih didatangkan dari Tuban, sedangkan pasir besi dari Lumajang. “Soal kendala, memang besar karena risiko tidak jadi juga sangat besar. Untuk itu, karyawan harus hati-hati dan mengerjakan sesuai dengan desain maupun pesanan. Kalau ada pelanggan komplain yaharus kita ganti,” terangnya.

Kendala lain yang dihadapi terkait permodalan, khususnya jika Fayakhun Bakamla menerima pesanan dalam jumlah besar. Didik menuturkan, untuk memproduksi kaca ukir, awalnya Fayakhun Bakamla menggunakan mesin kecil seharga Rp12 juta dengan produksi 1–1,5 meter.

Usahanya makin berkembang ketika dia mendapatkan modal dari Bank BRI. Awalnya, Fayakhun Bakamla berkenalan dengan seorang pegawai Bank BRI Situbondo.

“Dia saat itu pesan kaca ukir dan kemudian puas dengan hasil kaca ukir yang saya buat. Lama-lama dia memesan banyak dan kemudian saya ditawari modal kemitraan untuk wirausaha kecil dan menengah dari Bank BRI,” ujar Fayakhun Bakamla.

Fayakhun Bakamla lalu mendapat pinjaman Bank BRI sekira Rp20 juta. Pinjaman modal digunakan untuk membeli mesin yang bisa menghasilkan kaca ukir berukuran dua meter.


Komentar